Contoh Tuturan Bernuansa Pragmatik

Contoh Tuturan Bernuansa Pragmatik

Oleh Drestha Surya Yogiswara (NPM 21410039)


 

·       “Ya Tuhan, aku hamil.”

Kalimat di atas memiliki banyak makna tergantung dari siapa yang menuturkannya. Jika tuturan tersebut keluar dari seorang wanita yang telah bersuami dan menginginkan momongan, tentu saja hal ini merupakan hal yang membahagiakan. Namun, jika tuturan tersebut keluar dari seseorang dibawah umur, perempuan yang belum bersuami, ataupun pasutri yang belum menginginkan momongan, hal ini merupakan hal yang tidak diinginkan serta mengecewakan.


·       “Ma… Mama….”

Biasanya, tuturan ini keluar dari seorang anak kepada ibunya atau suami kepada istrinya. Meskipun hanya memanggil dengan panggilan disertai intonasi yang manja dan sedikit cengar-cengir, sang ibu atau istri langsung mengetahui ada maksud dibalik tuturan tersebut. Tuturan tersebut mengandung makna menginginkan atau meminta sesuatu namun sang penutur masih malu-malu untuk menyampaikannya secara langsung.


·       “Guru itu ternyata killer, ya.”

Kata “killer” kerap kali disematkan oleh murid atau mahasiswa kepada guru atau dosennya. Biasanya ada beberapa alasan mengapa seorang guru atau dosen dicap killer, antara lain:

§  Guru atau dosen tersebut sering marah-marah.

§  Guru atau dosen tersebut dalam memberi nilai pelit.

§  Guru atau dosen tersebut jarang bersimpati terhadap murid atau mahasiswanya.

§  Guru atau dosen tersebut terlalu kolot dan tidak terbuka.


·       “Kamu benar-benar gila.”

Tuturan di atas memiliki beberapa makna tergantung dari situasi dan kondisinya. Tuturan tersebut dapat ditujukan kepada seseorang yang melakukan sesuatu tidak normal atau di luar batas kewajaran. Dapat pula ditujukan kepada orang yang pintar melucu sehingga mitra tutur tertawa terpingkal-pingkal dan mengecap penutur sebagai orang yang gila. Dan tuturan tersebut dapat ditujukan kepada orang yang benar-benar gila atau memiliki masalah pada kesehatan mentalnya.


·       A: “Bagaimana? Enak tidak masakanku?”

B: “Enak kok.”

Berdasarkan dialog di atas, tanggapan B memiliki dua makna. Pertama, masakan A benar-benar enak sehingga B memberikan jawaban sesuai kenyataan yang ada dan apa adanya. Kedua, masakan A tidak terlalu enak atau bahkan tidak enak. Namun, untuk mengapresiasi usaha serta tidak menyakiti atau menjaga perasaan A, B memberikan jawaban tersebut yang mana tidak sesuai dengan kenyataan atau sebuah kebohongan.


·       “Maaf, kami tidak jadi memesan barang itu.”

Tuturan di atas memiliki beberapa makna. Pertama, penutur tidak jadi memesan barang itu karena barangnya tidak sesuai dengan ekspektasinya. Kedua, tidak terdapat masalah terhadap barang yang diinginkan namun pelayanan dari toko tersebut tidak bagus sehingga penutur membatalkan pesanannya. Ketiga, barang yang diinginkan tidak tersedia sehingga penutur terpaksa membatalkan pesanannya.


·       “Saya berjanji akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.”

Kalimat di atas memiliki makna yang berbeda tergantung situasi dan kondisinya. Tuturan tersebut dapat keluar dari seseorang yang sedang diwawancara atau sedang berusaha diterima di sebuah instansi maupun sekolah. Penutur menuturkan kalimat tersebut untuk menunjukkan bahwa dirinya dapat dipercaya dan bertanggung jawab akan tugas yang diberikan jika ia diterima. Tuturan di atas dapat pula keluar dari seseorang yang sedang dimarahi dan mungkin mendapatkan hukuman karena tugas yang diberikan kepadanya tidak berjalan dengan baik atau hasilnya tidak sesuai harapan guru atau atasannnya. Oleh karena itu, penutur mengatakan hal tersebut sebagai sebuah janji bahwa kedepannya dia akan melaksanakan tugas dengan baik dan tidak akan mengecewakan mereka lagi.


·       “Jawabanmu bagus sekali.”

Tuturan di atas memiliki dua makna. Pertama, jawaban yang diberikan mitra tutur memang bagus sehingga penutur menuturkan kalimat tersebut. Kedua, jawaban yang diberikan mitra tutur tidak bagus atau jelek. Oleh sebab itu, penutur memberikan jawaban ironi yang maknanya kebalikan dari kenyataan yang ada. Hal yang dilakukan oleh penutur ini bertujuan untuk merendahkan dan menyadarkan mitra tutur bahwa jawaban yang diberikannya kurang serta tidak sesuai ekspektasi. Penutur berharap mitra tutur mampu memberikan jawaban yang lebih baik daripada itu.


·       “Sudah jam dua belas malam.”

Kalimat di atas memiliki makna yang berbeda tergantung siapa yang menuturkannya. Jika kalimat tersebut keluar dari seseorang yang sedang melihat jam, maka tuturan ini bermakna bahwa saat itu sudah jam dua belas malam. Tuturan ini dapat pula keluar dari seseorang yang sedang menanti seseorang lainnya yang tak kunjung datang dan kemungkinan besar benar-benar tidak datang karena sudah terlalu malam. Selain itu, kalimat ini dapat keluar dari seseorang yang terjebak dalam suatu situasi yang menyebabkannya tidak bisa pulang sehingga mencemaskan orang atau keluarga yang dia tinggal di rumah.


·       “Siapa yang mengajak menonton? Aku kan hanya bertanya ada waktu atau tidak.”

Kalimat di atas bermakna bahwa mitra tutur mungkin merasa terlalu senang ketika penutur bertanya ada waktu atau tidak. Oleh karena itu, mitra tutur mengira penutur mengajaknya pergi menonton. Namun, ternyata penutur tidak bermaksud seperti itu. Selain itu, kalimat di atas dapat pula bermakna lain. Ketika penutur bertanya ada waktu atau tidak, mitra tutur merasa jengkel dengan ajakannya. Mungkin mitra tutur beprasangka yang tidak-tidak kepada penutur. Oleh sebab itu, penutur menyanggahnya dengan mengucapkan, “aku kan hanya bertanya ada waktu atau tidak”.

Komentar