Contoh Deiksis dalam Pragmatik
Contoh Deiksis
dalam Pragmatik
Oleh Drestha Surya Yogiswara (NPM 21410039)
· Di
musim panas usia 13 tahun, Mizuka
berjumpa dengan Toma di desa dan jatuh cinta untuk pertama
kalinya. Namun di tahun berikutnya, Toma
tidak muncul di tempat mereka berjanji bertemu kembali.
Hati Mizuka hancur berkeping-keping…
12
tahun kemudian, Mizuka bertemu
kembali dengan Toma dan mulai
berpacaran dengannya. Sembari
berusaha bekerja dengan sekuat tenaga, Mizuka
menyadari kalau Shuya juga
mengetahui kenangan musim panas itu dan menjadi tertarik padanya. Mizuka akhirnya memutuskan tidak akan meraih tangan keduanya dan
hanya mencintai Shuya dalam hati, namun… (Kitagawa, 2016:3).
→ Dari paragraf diatas, deiksis persona ditunjukkan
dengan kata-kata yang ditebalkan atau bold,
yaitu Mizuka, Toma, mereka, -nya, dan Shuya. Deiksis tempat ditunjukkan dengan
kata-kata yang ditulis miring, yaitu di desa dan di tempat mereka berjanji
bertemu kembali. Deiksis waktu ditunjukkan dengan kata-kata yang digarisbawahi,
yaitu di musim panas usia 13 tahun, di tahun berikutnya, dan 12 tahun kemudian.
→ Paragraf di atas mengandung maksud bahwa harapan
Mizuka terhadap Toma yang awalnya pupus kini berbuah manis setelah beberapa
tahun berlalu. Mizuka dapat berpacaran dengan Toma, cinta pertamanya. Dan
ternyata Toma memiliki saudara kembar bernama Shuya. Namun, hal yang ganjal
adalah Shuya mengetahui kenangan musim panas itu. Seharusnya hanya Mizuka dan
Toma yang tahu. Mizuka berpikir apakah mungkin Toma yang ditemuinya dulu adalah
Shuya. Hal tersebut membuatnya bingung dan tidak tahu siapakah yang dia temui
waktu itu, apakah Toma atau Shuya. Bahkan Mizuka tidak yakin dia jatuh cinta
kepada siapa, Toma atau Shuya. Pada akhirnya, Mizuka menyukai keduanya.
Mengetahui menyukai saudara kembar itu salah, Mizuka merelakan perasaannya dan
hanya akan mencintai Shuya dalam hati. Hal itu dilakukan Mizuka agar hubungan
Toma dan Shuya sebagai saudara kembar tetap terjaga dengan baik.
· Detektif SMU
ternama Shinichi Kudo diberi minum racun oleh organisasi misterius sehingga tubuhnya mengecil. Dengan memakai nama sementara Conan Edogawa, dia
menumpang tinggal di rumah Ran, pacarnya. Sedangkan Ran yang
tidak mengetahuinya, tetap setia menunggu kembalinya Shinichi (Gosho, 2003:2).
→ Dari paragraf diatas, deiksis persona ditunjukkan
dengan kata-kata yang ditebalkan atau bold,
yaitu detektif SMU ternama Shinichi Kudo, organisasi misterius, -nya, Conan
Edogawa, dia, Ran, dan Shinichi. Deiksis tempat ditunjukkan dengan kata-kata
yang ditulis miring, yaitu di rumah Ran. Deiksis waktu tidak ditemukan dalam
paragraf tersebut.
→ Paragraf di atas mengandung maksud bahwa Shinichi
Kudo, detektif SMU ternama, tubuhnya menyusut menjadi seperti anak kecil karena
diberi racun oleh organisasi misterius. Organisasi misterius ini sendiri cukup
berbahaya. Mengetahui dirinya menyusut bukannya meninggal, Shinichi memutuskan
untuk menggunakan identitas baru, yaitu Conan Edogawa, siswa kelas 1 SD. Dia
juga menumpang tinggal di rumah pacarnya, Ran, agar identitasnya tidak terbongkar.
Selain itu, ayah Ran yang bekerja sebagai detektif dapat membantunya dalam
mengumpulkan informasi mengenai organisasi misterius tersebut. Di lain pihak,
Ran yang tidak tahu apa-apa hanya menantikan kembalinya Shinichi ke
kehidupannya.
· Wajah Lasi
tergelar menjadi panggung tempat segala rasa naik pentas. Kedua bibirnya bergetar. Air mata cepat keluar.
Cuping hidungnya bergerak-gerak
cepat. Kedua tangannya mengayun ke
sana kemari tanpa kendali. Tenggorokan rasa tersekat sehingga Lasi belum bisa berkata apa pun. Dan
ketika Lasi benar-benar sadar akan
apa yang terjadi, tangisnya pecah
(Tohari, 2011:17).
→ Dari paragraf diatas, deiksis persona ditunjukkan
dengan kata-kata yang ditebalkan atau bold,
yaitu Lasi dan -nya. Deiksis tempat dan deiksis waktu tidak ditemukan dalam
paragraf tersebut.
→ Paragraf di atas mengandung maksud bahwa kabar yang
baru saja didengar oleh Lasi sangat sulit untuk diterimanya. Kabar tersebut
mengenai suaminya, Darsa, yang jatuh dari pohon kelapa. Kecelakaan jatuh dari
pohon kelapa yang tinggi sering kali berakhir dengan luka parah ataupun
meninggal dunia. Lasi belum siap mendengar bahwa suaminya terluka parah atau
bahkan meninggal. Oleh sebab itu, reaksi yang ditunjukkan oleh Lasi adalah
ekspresi kaget, takut, dan cemas yang bercampur menjadi satu.
· Young-Mi menatap layar
televisi dan telepon yang dipegangnya
bergantian. Otaknya sibuk berputar. Ia mencoba menghubungi ponsel Sandy sekali lagi dan kali ini
ia hanya mendengar suara operator telepon yang berkata telepon
yang dituju sedang tidak aktif. Young-Mi
menutup telepon dan mengerutkan dahi (Tan, 2006:125).
→ Dari paragraf diatas, deiksis persona ditunjukkan
dengan kata-kata yang ditebalkan atau bold,
yaitu Young-Mi, -nya, ia, Sandy, dan operator telepon. Deiksis waktu ditunjukkan
dengan kata-kata yang digarisbawahi, yaitu kali ini. Deiksis tempat tidak
ditemukan dalam paragraf tersebut.
→ Paragraf di atas mengandung maksud bahwa berita yang
baru saja dilihat oleh Young-Mi sulit diterima dan membuatnya terkejut.
Young-Mi cukup yakin orang misterius yang diberitakan dalam tayangan berita
tersebut adalah Sandy. Oleh sebab itu, dia berusaha menghubungi Sandy untuk
memberitahunya serta mengklarifikasi apakah berita itu benar. Namun, hasil yang
didapatkan Young-Mi nihil karena Sandy tidak menggangkat teleponnya.
· Keningnya
berkerut samar. Tentu saja ada yang hilang. Ia tahu benar ada sesuatu yang hilang. Hanya saja ia tidak tahu apa yang hilang itu. Dan
apakah sesuatu yang hilang itu penting atau tidak (Tan, 2008:7).
→ Dari paragraf diatas, deiksis persona ditunjukkan
dengan kata-kata yang ditebalkan atau bold,
yaitu -nya dan ia. Deiksis tempat dan deiksis waktu tidak ditemukan dalam
paragraf tersebut.
→ Paragraf diatas mengandung maksud bahwa ia merasa ada
kekosongan dalam hatinya. Kekosongan tersebut disebabkan suatu hal yang hilang,
namun dia tidak tahu apa. Dan dia tidak tahu harus berbuat apa oleh karenanya.
Dia merasa seperti tersesat, tak tahu harus melangkah kemana. Satu hal yang
dapat dia lakukan hanyalah memikirkannya yang kadang kala membuat keningnya
berkerut samar.
· Butuh tenaga besar untuk menyeret kakinya dan maju selangkah. Sebelah tangannya terangkat ke dada, mencengkram
bagian depan jaket. Tangan yang lain terjulur ke depan dan mencengkram pagar
besi jembatan. Pagar besi itu seharusnya terasa dingin di tangannya yang telanjang, tapi nyatanya ia tidak merasakan apa pun walaupun ia mencengkaram pagar besi itu sampai
buku-buku jarinya memutih (Tan,
2007:7).
→ Dari paragraf diatas, deiksis persona ditunjukkan
dengan kata-kata yang ditebalkan atau bold,
yaitu -nya dan ia. Deiksis tempat dan deiksis waktu tidak ditemukan dalam
paragraf tersebut.
→ Paragraf di atas mengandung maksud bahwa dia sedang
dilanda masalah yang sangat besar. Masalah tersebut memenuhi pikiran dan membuatnya
kalut. Hanya sakit yang dia rasakan di dada, namun indera perasa lain seperti
mati rasa. Pagar besi yang seharusnya dingin tak terasa dingin di tangannya
yang telanjang. Masalah yang menimpanya terasa seperti memutarbalikkan
kehidupannya yang tenang menjadi kacau dan tidak karuan.
·
Aku Cuma Punya Hati
Dulu saat ku siap mati untukmu
Kamu tak pernah menganggap aku
hidup
Dulu saat semua ingin ku
pertaruhkan
Kamu tak pernah percaya cinta sejatiku
Aku cuma punya hati
Tapi kamu mungkin tak pakai
hati
Kamu berbohong aku pun percaya
Kamu lukai ku tak peduli
Coba kau pikir dimana ada
cinta seperti ini
Kau tinggalkan aku ku tetap di sini
Kau dengan yang lain ku tetap
setia
Tak usah tanyakan apa aku
cuma punya hati
…
(Dipopulerkan oleh Mytha Lestari)
→ Dari penggalan lirik lagu di atas, deiksis persona
ditunjukkan dengan kata-kata yang ditebalkan atau bold, yaitu ku, -mu, kamu, aku, -ku, dan kau. Deiksis tempat
ditunjukkan dengan kata-kata yang ditulis miring, yaitu di sini. Deiksis waktu
ditunjukkan dengan kata-kata yang digarisbawahi, yaitu dulu.
→ Penggalan lirik lagu di atas mengandung maksud bahwa
hubungan yang mereka jalani agaknya terlalu memaksa. Memaksa di sini disebabkan
hanya satu orang saja yang benar-benar komitmen terhadap hubungan tersebut dan
tulus mencintai, sedangkan pasangannya tidak. Meskipun mengetahui bahwa
pasangannya tidak peduli dengan hubungan tersebut bahkan kepada dirinya, dia
tetap setia. Menurut saya, hal tersebut agak tidak masuk akal dan bodoh. Namun,
orang-orang yang telah jatuh cinta kadang kala menjadi cinta buta dan bucin
sehingga apa yang mereka lakukan diluar akal sehat. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa penggalan lagu di atas adalah penggambaran orang yang cinta buta dan
bucin terhadap pasangannya.
·
Batal Kawin
…
Ternyata eh ternyata semua tak sesuai rencana
Sampai akad pun tiba calonku
tak datang juga
Dia lari sama mantan pacarnya… hey
Sial... hey, sial... sial... sial... sial…
Oh Mama...Oh Papa... apakah salah hamba
Perkawinan kini batal bikin malu keluarga
Gara-gara cari calon hanya dari bagus rupa
Ternyata eh ternyata dia
tidak setia
Oh Mama... Oh Papa... Kini aku pasrah saja
Carikanlah calon istri yang sesuai keinginan
Yang baik, yang setia, dan bisa dipercaya
Yang amanah fatonah dan juga istikomah
…
(Dipopulerkan oleh Project Pop)
→ Dari penggalan lirik lagu di atas, deiksis persona
ditunjukkan dengan kata-kata yang ditebalkan atau bold, yaitu -ku, dia, mantan pacarnya, mama, papa, hamba, dan aku. Deiksis
waktu ditunjukkan dengan kata-kata yang digarisbawahi, yaitu sampai akad pun
tiba. Deiksis tempat tidak ditemukan dalam penggalan lirik lagu tersebut.
→ Penggalan lirik lagu di atas mengandung maksud bahwa
dia menyesal memilih calon istri yang ternyata tidak setia. Hal itu terjadi
karena dia lebih mementingkan tampilan atau paras daripada kualitas diri maupun
karakter calonnya. Penyesalan yang selalu datang di akhir membuatnya pasrah dan
meminta orang tuanya untuk mencarikan calon istri. Dia akan menerima siapa pun
yang dipilihkan oleh orang tuanya karena dia yakin bahwa orang tersebut “bobot
bibit bebetnya” terjamin. Selain itu, calon pilihan orang tuanya tersebut
pastilah pilihan yang terbaik untuknya, yang akan setia, dapat dipercaya, dan
taat beragama.
Komentar
Posting Komentar